Meningkatkan Minat Membaca Siswa Sekolah Dasar

BAB I

PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Salah satu bidang garapan pengajaran bahasa di sekolah dasar adalah keterampilan membaca yang didasari oleh kemampuan membaca. Mampu membaca tidak berarti secara otomatis terampil membaca. Akan tetapi terampil membaca tidak mungkin tercapai tanpa memiliki kemampuan membaca. Tanpa memiliki kemampuan membaca yang memadai sejak dini, siswa juga akan mengalami kesulitan belajar di kemudian hari.

Kemampuan membaca menjadi dasar utama tidak saja bagi pengajaran bahasa itu sendiri, tetapi juga bagi mata pelajaran lain. Dengan membaca, siswa akan memperoleh pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar, sosial, dan emosionalnya. Membaca bagi manusia sebenarnya merupakan kebutuhan mendasar seperti kebutuhan manusia akan makan, pakaian, dan lain sebagainya.

Sebagian besar orang Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang mendasar. Padahal membaca sangat perlu. Dengan membaca seseorang dapat memperluas wawasan dan pandangannya, dapat menambah dan membentuk sikap hidup yang baik, sebagai hiburan serta menambah ilmu pengetahuan, dengan membaca ibarat dapat membuka “jendela dunia”. Dengan membaca dapat dihindari sikap picik dan fanatisme yang negatif.

Mengingat pentingnya peranan membaca tersebut bagi perkembangan siswa maka guru perlu memacu siswanya untuk membaca dengan benar dan selektif. Secanggih atau sebaik apapun suatu metode membaca tidak akan berhasil jika gurunya tidak mampu melaksanakannya serta hasilnya pun tidak sesuai dengan harapan. Karena itu peranan guru sangat mendukung keberhasilan siswanya.

1.2         Rumusan Masalah

Sesuai dengan judul makalah ini dan berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah yakni siswa belum dapat menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang mendasar.

1.3         Tujuan dan Manfaat

Semoga dengan adanya materi ini pada blog saya, dapat :

  1. Mendorong minat dan kebiasaan membaca masyarakat agar tercipta masyarakat yang berbudaya membaca.
  2. Meningkatkan layanan perpustakaan.
  3. Menciptakan masyarakat informasi yang siap berperan serta dalam semua aspek pembangunan.
  4. Menciptakan masyarakat yang memiliki pengetahuan yang terkini, bukan yang sudah “basi”.
  5. meningkatkan kemampuan berpikir masyarakat

BAB II

PEMBAHASAN

Minat dan kebiasaan membaca perlu dikembangkan secara terprogram dan terencana. Anak memiliki berbagai potensi yang dapat dan perlu dikembangkan, terutama potensi “ingin tahu”. Anak memang serba ingin tahu, hal ini perlu disalurkan secara positif. Rasa ingin tahu anak dapat dikembangkan melalui buku. Untuk menjadikan anak menyenangi buku perlu dimulai dan dipupuk sejak dini, sejak TK atau masuk SD.

Kondisi anak didik saat ini umumnya kurang menyenangi buku, minat baca tidak menonjol, dan mereka lebih suka menonton televisi. Membaca dilakukan terbatas pada buku-buku pelajaran pokok yang digunakan di sekolah. Itu pun bagaikan terpaksa, karena akan diadakan ulangan, atau karena guru member pekerjaan rumah. Ketekunan membaca hanya dimiliki beberapa orang anak saja di sekolah. Akibatnya pengetahuan anak sangat terbatas, penguasaan bahasa menjadi lambat bahkan kemampuan menangkap isi bacaan juga rendah. Ini harus dijadikan suatu tanda dan peringatan bagi guru dan orang tua, bahwa “minat baca” anak harus dipupuk, dikembangkan. Apabila minat baca “tinggi” guru akan lebih mudah dan ringan dalam melaksanakan tugasnya. Anak-anak akan lebih aktif, mencari dan menggali pengetahuan. Anak akan mengisi sendiri wadah rasa “ingin tahunya”. Suasana kelas akan lebih hidup, anak belajar aktif di kelas dan belajar akan lebih mempunyai makna.

Menurut seorang ahli, “Katakanlah kepada saya apa bacaan anda, saya akan segera dapat menilai sikap anda”. Ungkapan itu bermakna bahwa pribadi seseorang dapat dikenal melalui bacaannya karena bahan bacaan dapat membentuk kepribadian. Oleh karena itu perlu mengajari anak untuk selektif dalam memilih bacaannya. Dalam memasuki era globalisasi pada saat ini, peran membaca sangat penting dalam kehidupan manusia. Kegiatan membaca diperlukan untuk mencapai kemajuan dan kesuksesan di bidang politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Derasnya arus informasi dan komunikasi dewasa ini menyebabkan apa yang kita ketahui hari ini, tentang kemarin, mungkin tadi pagi atau tadi malam telah berubah.

Pengembangan minat baca ini perlu ditingkatkan secara berkesinambungan agar terbentuk masyarakat yang berbudaya membaca. Khususnya di negara ini, cara yang efektif populer untuk memperoleh informasi adalah melalui bacaan. Oleh karena itu sejak dini masyarakat perlu dimotivasi agar senang dan biasa membaca. Para guru harus mempunyai kemampuan dan kemauan untuk membaca sehingga dalam melaksanakan proses pembelajaran guru tidak hanya mengandalkan ilmu yang pernah dipelajarinya sebelum menjadi guru. Apabila guru menganggap bahwa ilmu yang dimilikinya sudah memadai dan tidak mengikuti perekembangan ilmu itu, maka dapat menimbulkan konflik antara guru dengan anak didik, karena materi yang diajarkan kepada anak didik mungkin sudah “basi”. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi bila guru senantiasa mengikuti perkembangan zaman dengan membaca.

Minat baca dapat ditumbuhkan dan dikembangkan, sehingga menjadi kebiasaan melalui penguasaan teknik membaca yang tepat. Teknik membaca yang tepat dapat membuat membaca lebih efisien, efektif, serta menarik.

Teknik-teknik Membaca dan Langkah-langkah Pelaksanaan
Membaca permulaan bertujuan memberikan kemampuan dasar untuk
membaca yaitu siswa mengenal/ mengetahui huruf dan terampil mengubah
huruf menjadi suara. Yang akan dibahas dalam tulisan ini bukan lagi tentang
teknik membaca permulaan (kelas 1 dan 2 SD), tapi akan dibahas tentang
teknik membaca lanjutan (dimulai di kelas tiga sekolah dasar). Tujuan membaca
lanjutan ialah untuk memperoleh informasi secara cepat, tepat, dan lengkap.

2.1 Membaca Teknik (Membaca Bersuara)
Kurikulum 2004 tertera membaca teks bersuara, teks agak pendek, teks agak
panjang, atau teks panjang (dilihat dari kompetensi yang ingin dicapai).
Membaca teknis bertujuan untuk menambah kelancaran siswa mengubah
lambang-lambang tertulis menjadi suara atau ucapan yang mengandung makna.
Membaca teknis menekankan pada segi “menyuarakan yang dibaca “. Pada
tahap ini guru harus hati-hati dan mengawasi bagaimana menyuarakan lambang
tertulis itu. Membaca teknis masih merupakan bagian terbesar dari kegiatan
membaca di kelas I dan II sekolah dasar. Kegiatan membaca teknis makin
menurun frekuensinya pada kelas tinggi sekolah dasar dan kegiatan membaca
ini lebih ditujukan untuk memelihara dan melatih kemampuan membaca.6)
Contoh membaca teknis ialah orang membacakan berita di televisi atau radio,
membacakan puisi atau membacakan dongeng. Semua itu membutuhkan teknik
membaca.
Dalam membaca teknis yang perlu diperhatikan adalah pelafalan vokal
maupun konsonan, nada/lagu ucapan, penguasaan tanda-tanda baca,
pengelompokan kata/frase ke dalam satuan-satuan ide, kecepatan mata, dan
ekspresi.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam pelaksanaan membaca teknis adalah
sebagai berikut:
a. Siswa diberi waktu ± 5 menit untuk membaca bacaan yang disajikan
dengan caranya sendiri. Tujuan kegiatan ini agar siswa mempunyai
gambaran umum tentang bacaan yang akan dibaca, siswa juga dapat
mempersiapkan cara mengucapkan kata-kata tertentu atau menentukan
pemenggalan kalimat.
b. Siswa diberi kesempatan menanyakan kata-kata yang dianggap baru atau
sulit, yang belum diketahui maknanya supaya siswa terbantu dalam
menghayati maksud bacaan.
Ada dua kemungkinan jika siswa tidak mengerti arti/makna kata :
1. belum mengenal kata-kata yang dimaksud.
2. tidak mengenal konsep/makna sebuah kata.
Jika siswa tidak mengenal/tidak mengerti kata-kata yang dimaksud, guru
menjelaskan dengan mengganti kata lain yang sama artinya. Tetapi jika
disebabkan oleh kemungkinan yang kedua, guru diharapkan menunjukkan
benda, gambar, atau memperagakan dengan perbuatan.
c. Melakukan tanya jawab dan guru menjelaskan struktur kalimat yang
dianggap baru atau sulit, termasuk cara memenggal dan mengucapkan
kalimat.
d. Guru memberikan contoh membaca yang baik dengan menonjolkan lafal
kata, pemenggalan, lagu kalimat dan ekspresi. Contoh ini dapat pula
dilaksanakan dengan jalan menunjuk dua atau tiga orang siswa yang
dianggap cakap dalam membaca. Guru hendaknya memberikan penjelasan
tentang :
1. perkataan mana yang penting dan harus dibaca dengan tekanan.
2. berhenti dan bernafas pada tempatnya.
3. tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
e. Mengadakan tanya jawab ringan tentang isi wacana, berurutan dari
paragraf pertama sampai dengan terakhir. Cara ini bermanfaat untuk
menolong siswa dalam menghayati maksud wacana yang disajikan,
sebelum siswa mendapat giliran membaca.
f. Setelah itu guru memberikan giliran membaca kepada beberapa siswa,
sambil memperbaiki kesalahan yang dilakukan siswa.
Pelajaran membaca teknis merupakan bagian dari pelajaran bahasa Indonesia
dalam keterampilan membaca, karena itu tidak dibenarkan menggunakan
satu pertemuan hanya untuk membaca teknis. Untuk mengindari kebosanan
setelah memberikan giliran kepada sekitar 5 atau 6 orang siswa, di lanjutkan
dengan keterampilan bahasa yang lain, misalnya keterampilan berbicara atau
keterampilan menulis, dengan menuliskan kesimpulan bacaan tersebut.

2.2 Membaca Dalam Hati.
Membaca dalam hati ialah cara atau teknik membaca tanpa suara. Jenis
membaca ini perlu lebih ditekankan kepada pemahaman isi bacaan. Dalam
kurikulum 2004 tertera membaca sekilas, membaca memindai, membaca
intensif, dan membaca ekstensif. Membaca jenis ini dapat digolongkan ke dalam
membaca dalam hati. Membaca dalam hati berbeda dengan membaca teknis.
Membaca dalam hati lebih banyak menggunakan kecepatan gerak mata,
sedangkan membaca teknis lebih banyak menggunakan gerakan mulut.
Mengingat gerakan mata lebih cepat menanggapi apa yang dibaca, maka
membaca dalam hati lebih cepat prosesnya daripada membaca teknis. Karena
itu dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak menggunakan membaca
dalam hati dalam kegiatan membaca / wacana apapun. Jangan biarkan siswa
membaca menggunakan ujung jari atau mulut yang berkomat – kamit, karena
kegiatan ini akan menghambat kecepatan siswa dalam membaca.
Membaca dalam hati dapat diperkenalkan sejak siswa berada di kelas II
sekolah dasar, tapi secara intensif diberikan pada siswa kelas III dengan tujuan
membaca dalam hati ialah melatih kemampuan siswa dalam memahami isi
wacana /bacaan. Membaca dalam hati cocok untuk keperluan studi dan
menambah ilmu pengetahuan / informasi. Setelah siswa membaca diberi tugas
untuk menjawab pertanyaan, bacaan ditutup. Pertanyaan yang diberikan berupa
pertanyaan ingatan dan pertanyaan pikiran. Guru hendaknya tidak hanya
memberi pertanyaan ingatan, atau sebaliknya hanya memberi pertanyaan
pikiran saja. Pertanyaan ingatan menanyakan tentang isi bacaan, sedangkan
pertanyaan pikiran untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami /
menanggapi seluruh isi bacaan. Pada saat awal siswa dikenalkan dengan
membaca dalam hati, pertanyaan yang diberikan berupa pertanyaan ingatan.
Makin meningkat kelasnya, pertanyaan pikiran harus mendapat perhatian guru,
sebab dengan cara ini akan lebih mendorong siswa untuk giat membaca.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan membaca dalam hati
adalah sebagai berikut:
Guru menerangkan kata-kata yang diperkirakan sulit atau baru bagi siswa.
Sebagai variasi dan menghindarkan ketergantungan siswa terhadap penjelasan
guru, dapat ditempuh dengan jalan memberikan daftar kata-kata sulit atau
kata-kata baru dan siswa dilatih mempergunakan kamus untuk mencari katakata
tersebut.
a. Guru memberi waktu ± 15 menit untuk membaca dalam hati suatu
bacaan yang disajikan, sebaiknya bacaan yang berisi masalah baru. Waktu
yang disediakan tergantung pada panjang pendeknya bacaan tersebut.
b. Setelah waktu yang ditentukan habis, siswa disuruh untuk menutup bacaan
yang sudah dibaca, untuk menghindarkan siswa membaca kembali bacaan
tersebut pada waktu ia menjawab pertanyaan bacaan.
c. Guru memberikan pertanyaan mengenai bacaan, baik pertanyaan ingatan
maupun pertanyaan pikiran. Jawaban dapat disampaikan secara lisan
untuk melatih keberanian siswa berbicara. Dapat pula secara tertulis
untuk melatih kecermatan siswa dalam menulis.
d. Dalam praktek sehari-hari setelah langkah-langkah di atas dilakukan,
biasanya dilanjutkan dengan membaca teknis atau membaca bahasa.
Catatan :
Merupakan cacat membaca dalam hati bila :
1. membaca dengan suara berbisik / bergumam.
2. bibir bergerak-gerak (komat-kamit)
3. kepala bergerak ke kiri dan kanan mengikuti baris-baris bacaan, atau
4. menunjuk dengan jari, pensil, dan lain-lain.

2.3 Membaca Cepat
Dalam kurikulum 2004 tertulis membaca intensif, membaca sekilas, dan
membaca ekstensif. Semuanya itu dapat masuk ke dalam jenis membaca cepat.
Tujuan yang hendak dicapai melalui membaca cepat ialah melatih kecepatan
gerakan mata para siswa pada saat membaca. Membaca cepat perlu diajarkan
kepada para siswa, karena pada saatnya kelak siswa harus dapat membaca
suatu pengumuman, pemberitahuan, berita, dan tulisan-tulisan lain dalam
waktu yang cepat.
Dalam kehidupan sehari-hari membaca cepat sangat dibutuhkan karena
pada abad informasi ini kita dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang
sangat banyak jumlahnya dan tentunya kita tidak ingin tertinggal informasi.
Pada tahap permulaan mengenalkan membaca cepat kepada siswa kelas III
dan IV sekolah dasar, bahan bacaan hendaknya yang pernah dibaca siswa
supaya tidak terhambat oleh istilah yang belum dikenal. Pada kelas ini para
siswa sudah mampu membaca dengan baik dan lancar. Sedangkan pada
kelas V dan VI dapat dilakukan 3 (tiga) kali dalam sebulan karena mustahil
seseorang dapat membaca cepat tanpa latihan yang intensif dan
berkesinambungan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan membaca cepat adalah
sebagai berikut:
a. Untuk menghindari pemusatan perhatian dan melangkah mundur
(mengulang bagian yang sudah dibaca sebelumnya), guru membicarakan
bagian yang diperkirakan sulit.
b. Siswa diberi kesempatan membaca suatu bacaan dengan cepat dalam
waktu telah ditentukan dengan aba-aba guru pada waktu memulai dan
mengakhirinya. Kemudian memberikan siswa batas mengenai bahan yang
sudah dibaca dan menghitung jumlah kata yang telah dibacanya.
c. Siswa diberi tugas menyebutkan/menuliskan bagian bacaan yang penting,
mungkin berupa kata kunci, kalimat, atau paragraf.
d. Pada bagian akhir membaca cepat, guru memberikan tes untuk
mengetahui sejauh mana siswa dapat menangkap isi bacaan yang telah
dibacanya.
Kalau seorang siswa dapat membaca cepat namun tidak memahami isi
bacaan tersebut, maka tujuan membaca cepat tidak tercapai.

2.4 Membaca Bahasa
Membaca memindai, dalam kurikulum 2004, dapat digolong dalam membaca
bahasa.
Tujuan yang hendak dicapai dengan membaca bahasa ialah untuk menambah
keterampilan siswa dalam menggunakan makna bahasa, makna kalimat/kata
yang digunakan dalam konteks kalimat tertentu, penggunaan suatu kata dalam
konteks yang berbeda-beda, ketepatan penggunaan imbuhan, tanda baca, dan
susunan kata/kalimat. Membaca bahasa sudah dapat diajarkan kepada siswa
kelas III sekolah dasar, sebab pada tahap ini siswa sudah mulai lancar membaca.
Mula-mula bahan yang dibaca adalah bacaan yang pernah diajarkan kepada
siswa, kelas IV, V, dan VI guru perlu mencari bacaan lain yang belum pernah
diajarkan.
Dalam kegiatan membaca bahasa, guru perlu menanyakan :
a. arti kata yang digunakan dalam pelajaran dan penggunaan kata tersebut
dalam kalimat lain;
b. tepat atau tidaknya pemakaian kata dalam situasi yang digambarkan dalam
suatu pelajaran;
c. penggunaan awalan, akhiran, dan sisipan;
d. penggunaan tanda baca seperti koma, tanda seru, tanda tanya, titik dua,
dan sebagainya.
e. Penyusunan kata/kalimat baru yang lain
Dalam pelaksanaan membaca bahasa, dilakukan langkah-langkah berikut :
a Para siswa diberi kesempatan membaca dalam hati ± 5 menit.
Kesempatan ini boleh diberikan lebih dari satu kali.
b Guru bertanya tentang kata, ungkapan, atau kalimat yang dianggap baru
oleh siswa. Sebenarnya langkah ini hanya untuk mencocokkan apakah
hal yang dianggap baru oleh siswa dan hal yang diperkirakan baru oleh
guru itu sama.
c Pembahasan kata, ungkapan atau struktur kalimat disesuaikan dengan
indikator yang akan dicapai.
d Latihan-latihan bahasa dikaitkan dengan hal yang dibahas. Latihan ini
dapat berupa penggunaan kata atau ungkapan dalam kalimat, dapat
berupa latihan membuat kalimat dengan struktur baru menggunakan kata
yang dibahas tersebut.

2.5 Membaca Indah (Estetis)
Pokok masalah dalam membaca indah ialah cara membaca yang menggambarkan
penghayatan keindahan dan keharuan yang terdapat pada bacaan.
Dengan membaca indah siswa digugah rasa estetiknya, untuk terus diasah.
Dalam kurikulum 2004 membaca indah dikaitkan dengan apresiasi sastra. Di
Sekolah Dasar biasanya membaca indah bersuara, misalnya membaca puisi.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam membaca indah.
a. Diberi tugas membaca dalam hati suatu bacaan; untuk dapat memahami
isi bacaan dan siswa menghayati isi bacaan dan memiliki persiapan
pengungkapan diri pada waktu membaca bersuara.
b. Pertanyaan ringan diajukan untuk mengetahui atau menyeragamkan
pemahaman siswa terhadap bacaan yang disajikan.
c. Bersama siswa dibahas kesukaran bahasa yang ada agar tidak
mengganggu pemahaman.
d. Guru memberikan contoh membaca yang baik, siswa ditugaskan menandai
bacaan/ wacana yang perlu dibaca dengan suara lemah, kuat, atau cepat
dan lambat.
e. Siswa diberi kesempatan untuk membaca bacaan tersebut dengan
ekspresi yang tepat.

2.6 Membaca Bebas (Perpustakaan)
Tujuan membaca bebas ini ialah untuk menumbuhkan kegemaran membaca
dan menambah pengetahuan. Di samping itu membaca juga merupakan
rekreasi. Latihan membaca bebas pada hakekatnya bertujuan untuk
menanamkan kebiasaan membaca. Dengan membaca bebas ini siswa
dimotivasi untuk memanfaatkan waktu luangnya dengan membaca.
Guru/pustakawan dapat mengontrol membaca bebas ini dengan
menugaskan siswa menuliskan laporan dari buku yang telah dibaca, misalnya
dengan menuliskan ringkasan isi atau pesan dari buku tersebut, kesimpulan
dari bacaan tersebut, dsb.
Langkah-langkah pelaksanaan membaca bebas (Perpustakaan) ialah
sebagai berikut :
a. Apabila di dalam kelas para siswa telah menyelesaikan tugas mata
pelajaran tertentu, sedangkan waktu masih ada, hendaknya siswa
dianjurkan untuk memanfaatkan perpustakaan kelas/sekolah.
b. Siswa disuruh memilih buku yang disukai agar mereka gemar membaca.
c. Guru hendaknya ikut membaca bacaan yang dibaca siswa meskipun
hanya garis besarnya saja. Hal ini perlu karena guru dapat mengetahui
isi bacaan tersebut. Jika ada buku yang tidak pantas dibaca para siswa
maka buku tersebut dikeluarkan dari perpustakaan kelas/sekolah.
d. Guru hendaknya selalu menanyakan isi buku yang dibaca siswa. Misalnya
tentang tokoh cerita, alur cerita, atau hal-hal yang menarik bagi siswa.
Dengan demikian guru dapat mengendalikan apa yang dibaca siswa dan
pemanfaatan waktu luang tetap terjamin.
e. Siswa disuruh menceritakan kembali isi buku yang dibaca, baik di depan
kelas untuk menumbuhkan keberanian berbicara, atau membuat
rangkuman secara teratur untuk memupuk kemampuan menulis.

Cara Penilaian Membaca
Salah satu kegiatan yang ikut menentukan keberhasilan belajar mengajar
(PBM) ialah penilaian, baik yang menyangkut penilaian program, kegiatan,
dan hasil proses belajar mengajar.
Lingkup kegiatan ini amat luas karena itu pada kesempatan ini perhatian
dipusatkan pada penilaian terhadap kemajuan anak dalam PBM, terutama
penilaian pelajaran membaca.
Sebagai pelaksana kegiatan pelajaran membaca di kelas III sampai kelas
VI Sekolah Dasar penilaian tentu sangat berkaitan dengan tiap-tiap jenis
teknik membaca.

1. Membaca teknis (Membaca Bersuara)
Dalam membaca teknis yang dinilai ialah :
a. Ketepatan ucapan atau lafal.
b. Ketepatan nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat.
c. Kewajaran nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat sebagai pemakaian
bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
d. Kelancaran siswa dalam membaca.
Membaca dalam hati (Membaca sekilas, memindai, intensif,
ekstensif)
Hal-hal yang dinilai ialah :
a. Kemampuan siswa menangkap isi wacana, baik yang tersurat maupun
yang tersirat.
b. Kemampuan menceritakan kembali isi wacana dengan bahasanya sendiri/
kata-kata sendiri.
c. Kemampuan menemuan pikiran pokok setiap paragraf.
d. Kemampuan menemukan ide atau pengertian pokok wacana.
e. Kemampuan menjawab pertanyaan dengan lengkap.
f. Kemampuan mengatasi kebiasaan tidak efisien atau cacat dalam
membaca.

2. Membaca bahasa
Hal-hal yang dinilai berkaitan dengan unsur-unsur kebebasan yang diperlukan
dalam membaca.
a. Ketepatan pemakaian kata (kosakata), struktur kalimat, dan penyusunan
paragraf.
b. Pemakaian ejaan yang benar.
c. Pemakaian tanda baca yang tepat
Membaca indah (Apresiasi Sastra)
Hal-hal yang dinilai meliputi :
a. Pemahaman terhadap wacana.
b. Ketepatan ucapan atau lafal, nada, irama, lagu kalimat.
c. Kuat dan lemah, keras atau lambat suara (termasuk volume).
d. Penghayatan dan penjiwaan terhadap wacana yang dibaca.
e. Penampilan atau ekspresi pada waktu membaca.

3. Membaca bebas (Membaca Perpustakaan)
Penilaian terhadap membaca bebas hendaknya bersifat mendorong pribadi
siswa/kelas dalam menumbuhkan kegemaran membaca. Guru memberikan
tugas-tugas yang dapat memberikan gambaran keaktifan, ketelitian, dan
kerajinan siswa. Yang dinilai antara lain hasil laporan bacaan, rangkuman isi
wacana,hasil diskusi kelompok mengenai buku atau wacana yang dibaca, dan
sebagainya.
Dalam setiap jenis membaca, guru hendaknya telah mempunyai skala
penilaian berdasarkan materi yang akan dinilai. Hal ini untuk memperkecil
perasaan guru ikut dalam menilai, misalnya rasa suka / tidak suka sehingga
menimbulkan kesan pilih kasih. Sebagai contoh saja, skala penilaian dalam
menilai membaca teknis :
a. Ketepatan ucapan atau lafal. = 3
b. Ketepatan nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat = 3
c. Kewajaran nada irama, lagu, dan intonasi kalimat
sebagai pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari = 4
Jumlah = 10
Jadi, kalau siswa A dapat membaca teknis dengan baik dan mulus sesuai
kriteria penilaian maka ia akan mendapat maksimal 10, dst.
Perlu diperhatikan bahwa guru harus melihat tujuan dari tiap jenis membaca
lalu membuat skala penilaiannya.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

 

3.1         Kesimpulan

Kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi pengembangan kemampuan lain yang lebih tinggi. Karena itu pengajaran membaca di sekolah dasar harus dilaksanakan dengan penuh kesungguhan sehingga member manfaat bagi siswa dalam pengembangan kemampuan dan keterampilan lain. Kesabaran dan ketelatenan guru dalam membimbing, mengarahkan, dan melatih siswa sangat berperan dalam mendorong siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Begitu pula guru pustakawan dapat membantu meningkatkan minat baca siswa dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

  1. Menerbitkan daftar buku untuk buku anak-anak.
  2. Merencanakan kegiatan promosi minat baca seperti membentuk kelompok pencinta buku-buku, lomba minat baca dan lain-lain.
  3. Mengorganisasikan lomba minat baca di sekolah.
  4. Memilih siswa teladan yang telah membaca buku terbanyak.
  5. Memberikan tugas baru setiap minggu dan melaporkan hasil pelaksanaan tugas.
  6. Menceritakan orang-orang yang sukses sebagai hasil membaca.
  7. Mengajak siswa belajar ke perpustakaan.
  8. Mengajak guru untuk mengajar teknik-teknik membaca kepada siswa.
  9. Memotivasi siswa agar banyak membaca pada waktu terluang.
  10. Menyelenggarakan jam cerita (story telling) kepada para siswa secara periodik.

Dengan diketahuinya teknik-teknik membaca, langkah-langkah pelaksanaan, dan upaya untuk meningkatkan minat baca, maka diharapkan guru dapat mengambil perannya sebagai pendidik yang mendorong siswanya untuk gemar membaca.

3.2         Saran

Tidak dapat disangsikan lagi bahwa penanaman kebiasaan membaca harus dimulai pada usia dini, dan tidak dapat disangsikan pula bahwa sekolah merupakan tempat yang sangat tepat untuk memupuk minat dan kebiasaanmembaca bagi anak-anak. Salah satu dukungan yang dibutuhkan untuk menumbuhkan minat baca siswa adalah peran guru. Guru perlu memotivasi siswa untuk mencintai buku sejak awal. 12) Karena itu upaya pengembangan/peningkatan minat dan kebiasaan membaca juga diadakan di sekolah-sekolah. Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca antara lain :

  1. penyelenggaraan jam-jam cerita di perpustakaan sekolah
  2. pemberian tugas membaca;
  3. pemberian tugas pembuatan abstraksi;
  4. pemotivasian penyelenggaraan majalah dinding;
  5. penyelenggaraan lomba membaca;
  6. penyelenggaraan lomba pembuatan kliping;
  7. pemotivasian penerbitan majalah atau buletin sekolah;
  8. penyelenggaraan pameran buku yang dikaitkan dengan peringatan hari-hari besar nasional dan agama;
  9. penugasan siswa membantu pustakawan di perpustakaan sekolah;
  10. penyelenggaraan program membaca;
  11. pemberian bimbingan teknis membaca.

Dari semua kegiatan yang dilaksanakan di atas, tidak akan ada artinya kalau tidak didukung oleh para guru. Guru mempunyai peranan penting untuk meningkatkan minat baca siswa-siswanya.

Daftar Pustaka
Ahmad S. Harjasujana, Membaca, Universitas Terbuka.
Depdikbud. (1992/1993). Petunjuk pengajaran membaca dan menulis kelas III,
IV, V dan VI di sekolah dasar.
Depdikbud. Mutu Volume 1 no. edisi April– Juni 1992
Depdikbud. Mutu Volume 1 no. 2 edisi Juli–September 1992
Depdikbud. Mutu Volume 1 no. 4 edisi Januari–Maret 1993.
128 Jurnal Pendidikan Penabur – No.03 / Th.III / Desember 2004
Program Sekolah Lima Hari, Evaluasi Formatif
Depdinas. Kurikulum 2004: Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Tarigan, Henry Guntur, Prof. Dr,. (1995). Psikosastra. Bandung : Penerbit Angkasa
Harian Kompas, tanggal 29 September 2004 hlm. 9.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: